Jumat, 25 Desember 2009

Hijrah dari Sistem Ekonomi Yahudi

Depok, 18 Agustus 2009

Nurman Kholis - Staf Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat
Departemen Agama RI

Sebelum hijrah, ekonomi Madinah didominasi Yahudi

Jumlah mereka diperkirakan mencapai lima puluh persen dari penduduk. Mereka
membangun ekonomi di Madinah dari nol. Semula mereka adalah gelandangan.�
Karena gigih, akhirnya mereka memonopoli industri besi, menguasai pertanian,
serta mengendalikan keuangan dan pasar. Mereka pun makmur. Untuk
mempertahankan kontrol mereka, mereka pun memprovokasi dan memecah belah
masyarakat Madinah. Lain dengan Makkah. Kota ini dikuasai oleh orang
Quraisy. Namun, praktik dagang yang diterapkan orang Yahudi dan orang
Quraisy sama-sama ribawi dan berprinsip "dengan modal yang sekecil-kecilnya
mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya."



Berbeda halnya praktik dagang Nabi Muhammad SAW sejak di Makkah sebelum
menjadi Rasul lebih mengutamakan pelanggan daripada keuntungan. Hal ini
beliau� lakukan dengan selalu jujur dan mengatakan harga pokok barang dan
biaya mengurus dagangannya. Biasanya beliau melakukan negosiasi dengan
pembeli tentang laba yang diinginkannya. Dengan kejujurannya itu maka setiap
peminat dagangannya merasa diperlakukan sebagai sahabat dan akhirnya menjadi
pelanggan.



Ketika Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah, praktik jual beli yang beliau
lakukan berhasil mengikis habis praktik dagang riba. Kejujurannya ini
akhirnya mengantarkan beliau dipercaya menjadi pemimpin Madinah. Untuk
mempertahankan harmonisasi penduduk Madinah yang terdiri dari berbagai
agama, suku, dan keanekaragaman lainnya, beliau pun menggagas penyusunan
Piagam Madinah yang berisi komitmen kelompok-kelompok di Madinah dengan
memberikan batasan hak dan kewajiban masing-masing.



Estafet perjuangan Rasulullah SAW terus berlanjut. Para ulama pun berusaha
agar dakwah yang mereka lakukan berlangsung dengan damai. Ada hal penting:
mereka juga memahami *asbabunnuzul* (sebab-sebab turunnya) surat Yasin
khususnya ayat ke-9 yang pernah dibaca Rasulullah SAW dalam berbagai
kesempatan saat dikepung oleh musuh hingga beliau dapat lolos, termasuk pada
malam menjelang hijrah. Oleh karena itu, para ulama terutama yang berdakwah
ke Nusantara berijtihad dengan mengadakan pembacaan surat Yasin berjama'ah
tiap malam Jum'at. Berkah pembacaan surat ini berdampak pada islamisasi yang
tidak dapat dilihat oleh mata hati nonmuslim hingga Nusantara jadi kawasan
berpenduduk mayoritas muslim.



Namun, keadaan tersebut akhirnya berubah. Bila berabad-abad sebelumnya
islamisasi tidak dapat dilihat dengan mata hati orang-orang non-muslim, maka
sejak abad ke-19 di Timur Tengah dan sejak abad ke-20 di Nusantara,
yahudisasi sistem ekonomi di dunia ini tidak dapat dilihat oleh mata hati
sebagian besar umat Islam. Menurut Ahmad Thomson dalam *Sistem Dajjal*,
yahudisasi tersebut bermula dari kehadiran bank-bank di Eropa yang didirikan
orang-orang Yahudi.



Pada mulanya bank-bank ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan dinar (uang
emas) dan dirham (uang perak) agar aman. Jika ada orang yang menitipkan uang
emas atau uang peraknya di bank, sang bankir memberinya tanda terima
(kertas). Bankir pun berjanji akan membayar kembali uang emas dan uang perak
tersebut secara tunai kepada pembawa pada saat tanda terima itu
dipertunjukkan kembali kepada bank. Kertas yang berisi tanda terima ini
kemudian dapat dijadikan alat tukar meskipun belum ditukarkan dengan uang
emas atau uang perak yang ada di bank. Pada perkembangan selanjutnya, bankir
pun mencetak uang kertas sebanyak-banyaknya yang jumlahnya jauh lebih banyak
dari pada jumlah uang emas dan uang perak yang ada di bank.



Untuk memalingkan umat Islam terhadap dinar emas dan dirham perak sebagai
mata uang yang sudah disyahkan oleh Rasulullah SAW sebagai alat tukar,
nishab zakat, dan hudud (batasan pemberlakuan denda dan sanksi), kaum Yahudi
mengupayakan agar umat Islam tidak merujuk kepada kitab-kitab kuning yang
ditulis para ulama sebelum abad ke-19 yang menjelaskan fungsi kedua mata
uang tersebut. Di samping itu, para ilmuwan Yahudi juga merumuskan pelajaran
ilmu ekonomi dan menyusupkannya ke kalangan pelajar-pelajar baik Muslim
maupun yang lain.



Istilah "ekonomi" yang mereka perkenalkan telah direkayasa sehingga
menyimpang dari pengertian yang dirumuskan oleh Xenophon, ilmuwan Yunani
yang hidup 3 abad SM. Para ilmuwan Yahudi mengubah makna ekonomi yang
terbentuk dari kata *"oikos"* (rumah tangga) dan *"nomos"* (aturan) yang
semestinya dapat dimaknai "aturan rumah tangga" menjadi dimaknai "hemat"
oleh masyarakat dunia. Pengertian hemat ini diambil dari prinsip ekonomi
yang mereka rumuskan yaitu: "dengan modal yang sekecil-kecilnya untuk
mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya", suatu prinsip dagang yang
dulu dipraktikkan kaum Yahudi dan kaum Quraisy di Arab pada zaman
"jahiliyah".



Masyarakat Indonesia pun sejak 1 abad lalu mengartikan ekonomi menjadi
hemat. Kata "ekonomi" yang kita lihat di bis yang dimaknai hemat, tidak
seperti bis bertuliskan "AC" yang lebih banyak mengeluarkan biaya. Di
samping itu juga terdapat iklan yang berbunyi "praktis dan ekonomis" yang
berarti produk-produk yang diiklankannya mudah digunakan dan "hemat" biaya.



Kaum Yahudi pun terus mengamalkan ilmu ekonomi agar mereka semakin hemat.
Antara lain dengan mendirikan Dana Moneter Inernasional (IMF) dan Bank
Dunia, 1944. Melalui dua lembaga ini, mereka mengatur nilai uang kertas di
seluruh dunia menjadi berbeda-beda dan menjadikan dollar Amerika Serikat
(AS) sebagai standar peredaran uang kertas secara internasional. Misalnya
antara dolar AS dengan rupiah yang semakin jauh perbedaan nilainya. Sebagai
contoh, pada 1977 nilai 1 dollar AS sama dengan 627 rupiah. Sepuluh tahun
kemudian, 1987, menjadi 1.712 rupiah. Sepuluh tahun selanjutnya, terjadi
peningkatan sangat drastis dari semula nilai 1 dollar AS sama dengan 2.433
rupiah pada Juli 1997 secara pluktuatif menjadi 9.700 rupiah pada Januari
1998 dan bahkan beberapa bulan berikutnya mencapai 16.000 rupiah.



Kini 1 dollar bernilai sekitar 9 ribu rupiah, 10 dollar bernilai sekitar 90
ribu rupiah, 100 dollar bernilai sekitar 900 ribu rupiah, dan seterusnya.
Uang 100 dollar ini bila berjumlah 10 lembar maka bernilai sekitar 9 juta
rupiah, 100 lembar bernilai sekitar 90 juta rupiah, dan seterusnya. Padahal,
dollar dan rupiah sama-sama terbuat dari kertas. Sejak tahun 2000, mereka
juga mengelabui masyarakat dunia dengan menciptakan mata uang euro. Hal ini
juga merupakan rekayasa mereka agar euro dianggap sebagai pesaing dollar.
Padahal, salah seorang arsitek pemberlakuan euro adalah Alan Greenspan,
gubernur Bank Amerika dan keturunan Yahudi Jerman. Dengan demikian, kaum
Yahudi semakin "hemat" berlipat ganda sebaliknya kaum non-Yahudi semakin
"boros" berlipat ganda pula.



Peristiwa "hemat" dan "boros" ini sebagaimana terjadi pada kekayaan alam di
Nusantara yang semakin mudah ditukar dengan kertas-kertas bertuliskan
dollar, euro, dan sebagainya. Pertukaran yang zalim ini membuat sekian ton
emas, sekian ton padi, hutan, gunung dan sebagainya yang ada di Nusantara
menjadi lenyap. Hal ini mengakibatkan gunung-gunung di kawasan yang terdiri
dari belasan ribu pulau ini menjadi gundul sehingga bila musim hujan terjadi
longsor, bila musim panas terjadi kemarau yang sangat panas, dan berbagai
bencana alam pun terus menerjang Nusantara secara bertubi-tubi.



Dengan demikian, para penduduk Nusantara bagaikan "mayat" sehingga tidak
dapat berbuat apa-apa ketika kekayaan alam yang dimilikinya ditukar dengan
setumpuk kertas yang sudah disihir menjadi uang oleh orang Yahudi. Dan,
ketika spekulan Yahudi George Soros ke Indonesia Desember 2006 lalu, ia
dengan mudahya datang dan pergi tanpa dapat dihadang oleh siapapun. Bahkan,
justru disambut oleh pimpinan ormas Islam yang didirikan dengan misi untuk
memberantas takhayul, bid'ah, dan khurofat. Padahal, Soros merupakan aktor
utama di balik krisis moneter 1997.



Krisis ini terjadi tepat 1 abad setelah kongres Zionis ke-1 di Bazel Swiss,
1897. Langkah-langkah Soros tersebut berarti kebalikan 180 derajat dengan
kejadian yang dialami Rasulullah SAW, para sahabat, dan para ulama ke
Nusantara. Bila Rasulullah, para sahabat, dan para ulama mampu melangkah dan
keluar dari kepungan orang-orang non-Muslim tanpa bisa dilihat oleh mata
hati mereka. Kini kita tak bisa keluar dari krisis karena hati kita
tertutup.



Oleh karena itu, sebagian besar kaum Muslimin yang kini bagaikan "mayat"
harus menghidupkan baik hati yang ada dalam dirinya maupun sesama Muslim
lain hingga mampu keluar dari kepungan takhayul, bid'ah, dan khurofat yang
diciptakan orang Yahudi. Langkah untuk keluar dari kepungan musuh pernah
dialami Rasulullah SAW di malam hari menjelang hijrah, dengan membaca surat
Yasin ayat ke-9: "Dan Kami jadikan di hadapan mereka dinding dan di belakang
mereka dinding (pula), dan kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak
dapat melihat".



Berkenaan dengan tindakan orang yang masih hidup terhadap orang yang sudah
menjadi mayat, Rasulullah SAW bersabda: *"Iqrou Yasin 'ala mautaakum!"*.
(Bacalah Yasin kepada orang-orang mati kalian). Sebagaimana dikutip oleh
Faruq Nasution dalam buku "Tafsir Surat Yasin dan Asma' al Husna", Ibnu
Katsir memuat sumber-sumber riwayat yang menyampaikan hadits tersebut dari
Ahmad, al-Hakim, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban dengan
pertimbangannya "tidak membantah".



Imam Jalaluddin As-Suyuthi juga mencantumkan sumber-sumber riwayat hadits
ini secara lengkap dalam ensiklopedi haditsnya *Al Jami' ash Shaghir:
312*dan mempertimbangkan sanadnya dengan kode "shahih". Imam Ahmad
menyampaikan
pengalaman yang disampaikan suatu kaum (kisah al-Masikhah), bahwa seseorang
yang menghadapi kesusahan dalam kematian (sekarat) dapat tertolong dengan
membaca surat Yasin. Dengan beberapa sumber riwayat sebelumnya, serta
pengalaman yang disampaikan Imam Ahmad tersebut, dikomentari Ibnu Katsir
secara bijak (tidak berpihak) dengan kaidah "probabilitas" (al-Mumkinat)
yakni dengan memakai pertimbangan kalangan ulama tentang adanya khasiat
Surat Yasin, antara lain dapat menurunkan rahmat dan berkah guna memudahkan
ruh seseorang keluar dari jasadnya.



Semoga pembacaan surat Yasin di Nusantara tidak hanya bermanfaat kepada
orang-orang yang sudah menjadi mayat di alam kubur. Namun, juga kepada
orang-orang yang jasadnya masih hidup di dunia ini namun hatinya sedang
sekarat bahkan menjadi mayat. Berkah bacaan ini semoga juga menerangi hati
yang membacanya, yang tidak membacanya, dan bahkan yang anti dan berusaha
memberantas pembacaan surat Yasin tersebut.



Pada perkembangan selanjutnya, kaum Muslimin pun dapat memberlakukan
kembali mata uang dinar emas dan dirham perak hingga mampu melakukan hijrah
dari kepungan ajaran dan amalan orang-orang Yahudi. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar